Tampilkan postingan dengan label Sumatera Barat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sumatera Barat. Tampilkan semua postingan

Selasa, 13 Maret 2018

Rumah Adat Sumatera Barat



Rumah Adat Sumatera Barat : Struktur, Filosofi, Fungsi dan Keunikannya


Rumah Adat Sumatera Barat – Sumatera Barat adalah salah satu dari sekian banyak provinsi di Indonesia dengan menjadikan kota Padang sebagai ibu kotanya. Sesuai dengan namanya, provinsi tersebut terletak di pesisir barat pulau Sumatera. Dibagian sebelah barat provinsi ini terdapat sebuah kumpulan pulau-pulau kecil yang bernama Kepulauan Mentawai yang bahkan masih termasuk bagian dari wilayah Sumatera Barat.
Kebanyakan di Sumatera Barat ini dihuni oleh masyarakat Suku Minangkabau dan telah diyakini sebagai penduduk asli dan sekaligus mayoritas disana. Suku Minangkabau atau lebih dikenal dengan orang Minang, memiliki ikatan dengan suku Melayu yang kini memiliki berbagai budaya dan karakteristik yang unik. Tak hanya itu, ternyata penduduk disana terkenal dengan pandai berniaga, gemar merantau, dan pintar memasak.
Selain itu, terdapat banyak sekali keunikan yang menjadi ciri khas dari daerah tersebut, seperti: rumah adat, tarian, alat musik, makanan khas dan masih banyak lagi. Nah… kali ini kita akan membahas salah satu ikon budaya dari provinsi Sumatera Barat yaitu pada rumah adatnya. Agar lebih jelasnya lagi berikut penjelasan tentang rumah adat Sumatera Barat secara lengkap.

Rumah Adat Sumatera Barat



gambar rumah adat sumatera barat
Rumah Adat Sumatera Barat

Rumah adat Gadang atau Rumah Godang adalah nama bangunan khas yang sering kita jumpai di daerah Sumatera Barat. Bangunan adat tersebut juga sering disebut dengan nama lain oleh masyarakat setempat dengan nama Rumah Bagonjong dan ada juga yang menyebutnya dengan Rumah Baanjuang.
Bangunan dengan bentuk model seperti itu juga banyak kita jumpai di Negeri Sembilan atau Malaysia. Akan tetapi untuk semua daerah di Minangkabau yang boleh mendirikan rumah adat tersebut hanya pada kawasan yang sudah memiliki status sebagai nagari saja. Begitupun dengan sebaliknya, kawasan yang disebut dengan rantau, bangunan ini dulunya tidak ada yang didirikan oleh para perantau Minangkabau.

Struktur Rumah Adat Gadang



rumah adat minangkabau
Sisi dalam Rumah Adat Gadang

Seperti yang sudah disinggung pada bab sebelumnya, bangunan yang menjadi ikon atau ciri khas dari provinsi Sumatera Barat adalah Rumah Gadang. Bangunan adat ini merupakan rumah model panggung yang berukuran besar serta memiliki bentuk persegi panjang. Hampir sama dengan rumah adat di Indonesia pada umumnya, rumah adat Minangkabau ini terbuat dari dibuat dari beberapa material yang berasal dari alam. Misalnya pada tiang penyangga, dinding dan lantainya yaitu terbuat dari papan kayu dan juga bambu, sedangkan pada bagian atapnya yang berbentuk seperti tanduk kerbau ini terbuat dari ijuk.
Selain itu ternyata ada juga yang menyebutkan bahwa pada atap dari bangunan ini diibaratkan seperti bentuk kapal yaitu dengan ukuran kecil dibawah dan yang besar dibagian atas. Kemudian pada bagian atapnya juga mempunyai lengkung keatas yang kurang lebih seperti setengah lingkaran.
Meskipun rumah adat ini hampir 100% terbuat dari alam, namun arsitektur dari bangunan ini memiliki desain yang sangat bagus dan juga sangat kuat. Selain itu rumah adat dari Sumatera Barat ini ternyata memiliki desain yang tahan gempa yang sesuai dengan kondisi geografis didaerah tersebut yang sangat rawan dengan bencana gempa. Dengan desain yang  tahan terhadap gempa tersebut, pada rumah adat Gadang ini di salah satu tiangnya ada yang menancap di tanah.

Kemudian pada tiang yang lainnya dari rumah adat ini justru menumpang atau bertumpu pada batu-batuan di atas tanah. Sehingga dengan desain yang seperti itu, pada bangunan tersebut tidak akan tubuh meskipun terjadi gempa yang kuat. Tak hanya itu, pada setiap pertemuan antara tiang dan kaso besar pada rumah adat ini tidak disatukan dengan paku, melainkan menggunakan pasak yang terbuat dari kayu. Sehingga dengan teknik sambungan seperti itu bangunan tersebut akan bergerak dengan fleksibel meski terguncang dengan getaran gempa.


struktur rumah adat gadang
Bentuk Atap Rumah Adat Minangkabau

Kemudian ada setiap elemen dari bangunan rumah adat Gadang tersebut juga memiliki makna tersendiri. Ada beberapa unsur-unsur yang terdapat pada rumah adat Gadang ini diantaranya:
  • Gojong yaitu struktur pada atap dari rumah adat ini yang seperti tanduk kerbau.
  • Singkok, sebuah dinding yang berbentuk segitiga yang berada di bawah ujung bojong.
  • Pereng, yaitu rak yang ada di bawah singkok.
  • Anjuang, merupakan sebuah lantai yang mengambang.
  • Dindiang ari, merupakan sebuah dinding yang berada di bagian samping dari bangunan rumah adat ini.
  • Dindiang tapi, yakni sebuah dinding yang terletak di bagian depan dan belakang.
  • Papan banyak, fasad depan.
  • Papan sakapiang, adalah sebuah rak yang ada di pinggir rumah.
  • Salangko, yaitu merupakan sebuah dinding yang berada di bawah rumah.

Fungsi dan Keunikan Rumah Adat Gadang

Selain sebagai ikon budaya di Sumatera Barat, rumah adat Gadang hingga saat ini juga digunakan sebagai tempat tinggal oleh suku Minang dan juga sering untuk mengadakan upacara-upacara, pewarisan nilai-nilai adat dan  juga sering dipakai sebagai represensi dari budaya matrilineal. Tak hanya itu, ternyata rumah adat Gadang ini juga diparcayai sebagai tempat yang sangat suci oleh masyarakat Minangkabau.


gambar rumah garang
Bangunan Rangkiang yang Terletak di depan Rumah Adat Gadang

Untuk memenuhi fungsi tersebut, bangunan ini didesain sedemikian rupa yang sesuai dengan aturan-aturan adat yang berlaku sejak lama. Adapun beberapa aturan tersebut misalnya pada pembagian ruangan berdasarkan kegunaannya, misalnya:
  • Seluruh bagian di dalam rumah adat Gadang ini adalah ruangan lepas kecuali kamar tidur.
  • Jumlah kamar yang ada di dalam rumah tersebut bergantung pada jumlah perempuan yang tinggal disana.
  • Setiap perempuan yang sudah menikah berhak mendapatkan satu kamar.
  • Untuk perempuan tua dan yang masih anak-anak mendapatkan satu kamar yang terletak di dekat dapur.
  • Kemudian untuk gadis yang masih remaja mendapatkan satu kamar yang berada di ujung dekat dapur.
  • Pada halaman depan rumah terdapat 2 buah Rangkiang. Rangkiang yaitu bangunan yang biasanya digunakan untuk menyimpan padi dan beberapa bahan pangan lainnya.
  • Pada sayap kanan dan kiri dari bangunan tersebut terdapat sebuah ruangan anjung (dalam bahasa Minang disebut anjuang) yang digunakan sebagai tempat pengantin bersanding atau untuk penobatan kepala adat.
  • Disekitar rumah adat  Gadang ini biasanya terdapat sebuah surau kaum yang memiliki fungsi sebagai tempat untuk beribadah, pendidikan dan sekaligus untuk tinggal lelaki dewasa yang belum menikah dari keluarga tersebut.

Nilai Filosofi dan Ciri Khas Rumah Adat dari Sumatera

Pada umumnya Rumah Gadang ini dibangun diatas sebidang tanah milik suatu keluarga induk. Selain itu juga diwariskan secara turun temurun kepada kaum perempuan saja. Aturan tersebut memiliki filosofi bahwa derajat kaum wanita di Suku Minang ini sangatlah dijunjung tinggi.
Adapun beberapa ciri khas dari rumah adat Suku Minang ini antara lain:
Pada bentuk puncak selalu runcing dan tampak menyerupai dengan tanduk kerbau yang memiliki arti yaitu sebagai lambang kemenangan. Dengan bentuk yang seperti tanduk kerbau tersebut sering dikaitkan dengan kisah Tombo Alam Minangkabau, yaitu sebuah kisah yang menceritakan kemenangan adu kerbau antara orang Minang dengan orang Jawa. Pada bagian atap dari rumah adat Minangkabau ini terbuat dari ijuk dan bisa bertahan hingga sampai puluhan tahun.
Rumah adat ini termasuk dalam model panggung, oleh karena itu untuk memasuki bangunan tersebut kita harus menaiki tangga kecil dibagian depan. Tangga pada rumah adat Minang ini hanya terdapat satu buah saja, dan tangga tersebut merupakan simbol bahwa penduduk Minang masyarakat yang religius.


ukiran pada rumah adat gadang
Motif Ukiran pada Rumah Adat Gadang

Pada dinding dari bangunan ini biasanya dihiasi dengan beragam motif ukiran yang diberi warna kuning, merah,dan hitam. Adapun pada ukiran tersebut biasanya juga terdapat berbagai macam motif flora dan fauna, seperti tumbuhan yang merambat, akar berdaun dan lain sebagainya. Dengan banyaknya motif-motif tersebut diyakini melambangkan bahwa penduduk Minang adalah masyarakat yang dekat dengan alam.
source:

Kesenian Daerah Sumatera Barat


Kesenian Padang


randai
Kekayaan budaya Sumatera Barat tersebut meliputi tarian tradisional, makanan khas, alat musik tradisional, rumah adat, pakaian adat, keragaman suku, perayaan adat, lagu tradisional dsb. Berikut adalah ulasan dari berbagai macam kebudayaan Sumatera Barat.

Tarian tradisional

Secara garis besar seni tari dari Sumatera Barat adalah dari adat budaya etnis Minangkabau dan etnis Mentawai. Kekhasan seni tari Minangkabau umumnya dipengaruhi oleh agama Islam, keunikan adat matrilineal dan kebiasan merantau masyarakatnya juga memberi pengaruh besar dalam jiwa sebuah tari tradisi yang bersifat klasik, diantaranya tari Pasambahan, tari Piring, tari Payung dan tari Indang. Sementara itu terdapat pula suatu pertunjukan khas etnis Minangkabau lainnya berupa perpaduan unik antara seni bela diri yang disebut silek dengan tarian, nyanyian dan seni peran (akting) yang dikenal dengan nama Randai. Sedangkan untuk tarian khas etnis Mentawai disebut Turuk Langai. Tarian Turuk Langai ini umumnya bercerita tentang tingkah laku hewan, sehingga judulnya pun disesuaikan dengan nama-nama hewan tersebut, misalnya tari Burung, tari Monyet, tari Ayam, tari Ular dan sebagainya.

Alat musik tradisional

Nuansa Minangkabau yang ada di dalam setiap musik Sumatra Barat yang dicampur dengan jenis musik apapun saat ini pasti akan terlihat dari setiap karya lagu yang beredar di masyarat. Hal ini karena musik Minang bisa diracik dengan aliran musik jenis apapun sehingga enak didengar dan bisa diterima oleh masyarakat. Unsur musik pemberi nuansa terdiri dari instrumen alat musik tradisional antara lain :
  1. Saluang
  2. bansi
  3. talempong
  4. rabab
  5. gandang tabuik

Lagu tradisional

Nuansa Minangkabau yang ada di dalam setiap musik Sumatera Barat yang dicampur dengan jenis musik apapun saat ini pasti akan terlihat dari setiap karya lagu yang beredar di masyarat. Musik Minangkabau berupa instrumentalia dan lagu – lagu dari daerah ini pada umumnya bersifat melankolis. Hal ini berkaitan erat dengan struktur masyarakatnya yang memiliki rasa persaudaraan, hubungan kekeluargaan dan kecintaan akan kampung halaman yang tinggi ditunjang dengan kebiasaan pergi merantau. Contoh lagu tradisional dari provinsi Sumatera Barat adalah kambanglah bungo, barek solok, rang talu, malam baiko dan lain – lain.

Pakaian adat

Pakaian adat yaitu semua kelengkapan yang dipakai oleh seseorang yang menunjukkan ethos kebudayaan suatu masyarakat. Dengan melihat pakaian seseorang, orang akan mengatakan bahwa orang tersebut dari daerah sana. Jadi pakaian adat mewakili masyarakat dan adat sesuatu daerah membedakannya dengan adat daerah lain.

Perayaan adat

Perayaan adat yang disebut juga dengan perayaan adat. Upacara di daerah minangkabau ini beragam mulai upacara kematian, upacara pernikahan, upacara selamatan, upacara yang berkaitan dengan perekonomian, dan upacara sepanjang hidup manusia. Upacara sepanjang hidup manusia seperti upacara karek pusek, mengaji di surau, tamat kaji (khatam al-qur’an), upacara sunat rasul, dll.

Keragam suku

Mayoritas penduduk Sumatera Barat merupakan suku Minangkabau. Di daerah Pasaman selain suku Minang berdiam pula suku Batak dan suku Mandailing. Suku Mentawai terdapat di Kepulauan Mentawai. Di beberapa kota di Sumatera Barat terutama kota Padang terdapat etnis Tionghoa, Tamil dan suku Nias dan di beberapa daerah transmigrasi (Sitiung, Lunang Silaut, Padang Gelugur dan lainnya) terdapat pula suku Jawa.

Rumah adat

Rumah adat Sumatera Barat khususnya dari etnis Minangkabau disebut Rumah Gadang. Rumah Gadang biasanya dibangun di atas sebidang tanah milik keluarga induk dalam suku / kaum tersebut secara turun temurun. Tidak jauh dari komplek rumah gadang tersebut biasanya juga dibangun sebuah surau kaum yang berfungsi sebagai tempat ibadah dan tempat tinggal lelaki dewasa kaum tersebut namun belum menikah. Sementara etnis Mentawai juga memiliki rumah adat yang berbentuk rumah panggung besar dengan tinggi lantai dari tanah mencapai satu meter yang disebut dengan uma. Uma ini dihuni oleh secara bersama oleh lima sampai sepuluh keluarga. Secara umum konstruksi uma ini dibangun tanpa menggunakan paku, tetapi dipasak dengan kayu serta sistem sambungan silang bertakik.
Seni arsitektur merupakan kebudayaan
Rumah adat termasuk dalam seni arsitektur. Di dalam seni arsitektur pencipta dapat merancang sebuah gedung dengan inisiatifnya tersendiri. Pencipta dapat merancang gedung yang akan di buatnya dengan mewah, unik dan anggun seperti yang di inginkan. Ia dapat menambahkan berbagai hiasan, pola ataupun bentuk-bentuk yang menarik baginya. Begitu pula orang-orang yang melihat bangunan tersebut. Mereka dapat merasakan seni yang terkandung di bangunan tersebut dan memiliki rasa keingintahuan yang lebih dalam lagi untuk mengetahui filosofi bangunan tersebut. Dalam artian secara sempit ataupun secara global Seni Arsitektur memiliki arti “seni atau ilmu dalam merancang bangunan-bangunan”. Dalam artian yang lebih luas, arsitektur mencakup merancang dan membangun keseluruhan lingkungan binaan, mulai dari level makro yaitu perencanaan kota, perancangan perkotaan, arsitektur lansekap. Hingga ke level mikro yaitu desain bangunan, desain parabot dan desain produk arsitektur juga merujuk kepada hasil-hasil proses perancangan tersebut. Namun, dapat dikatakan pula bahwa unsur fungsi itu sendiri dalamnya sudah mencakup baik unsur estetika maupun psikologis.
Arsitektur adalah bidang multi disiplin, termasuk di dalamnya adalah matematika, sains, seni, teknologi, humaniora, politik, sejarah, filsafat, dan sebagainya. Mengutip Vitruvius, “Arsitektur adalah ilmu yang timbul dari ilmu-ilmu lainnya, dan di lengkapi dengan proses belajar, dibantu dengan penilaian terhadapkarya tersebut sebagai karya seni”. Ia pun menambah bahwa seorang arsitek harus fasih dalam bidang musik, astronomi, dan sebagainya. Filsafat adalah salah satu yang utama di dalam pendekatan arsitektur. Rasionalisme, Impirisialisme, Fenomenologi, Struktur ralisme, Post-strukturalisme, dan Dekonstruktivisme adalah beberapa arahan dari filsafat yang mempengaruhi arsitektur.
Seni Arsitektur berawal dari peradapan nenek moyang kita misalnya bagunannya mengandung ukiran-ukiran atau bentuk-bentuk yang lainnya, sehingga dapat di turunkan ke anak-anaknya sampai sekarang. Di Indonesia terdapat banyak-banyak macam seni arsitektur di antaranya Arsitektur Rumah Gadang, seperti bangunannya terdapat ukiran-ukiran yang indah dan mempunyai arti, kemudian atapnya yang berbentuk seperti tanduk dan masih banyak lagi, sehingga seni arsitektur memiliki nilai budaya.

Seni Arsitektur berhubungan dengan budaya karena seperti yang dijelaskan di atas bahwa didalam rumah gadang mengandung banyak budaya – budaya. Rumah gadang adalah nama untuk rumah adat minangkabau yang merupakan rumah adat tradisional dan banyak dijumpai di daerah Sumatra Barat, Indonesia. Rumah gadang juga memiliki beberapa nama panggilan yang lain. Seperti bagonjong, dan baanjung. Disebut bagonjong karena memiliki bentuk atap yang melengkung ke atas dengan ujung runcing mirip bentuk tanduk kerbau. Sedangkan disebut baanjung karena di sayap bangunan sebelah kanan dan kirinya ruang anjuang (anjung). Ruang ini digunakan oleh masyarakat setempat sebagai tempat pengantin bersanding atau tempat penobatan kepala adat.
Bentuk dasar rumah gadang adalah empat persegi panjang, berupa rumah panggung. Bentuk dindingnya yang membesar ke atas disebut silek. Untuk menghindari tampias dikala hujan. Tangga untuk menuju ke pintu terletak di depan rumah dan beratap. Rumah ini dibagi beberapa kamar yang disebut bilik, biasanya berjumlah ganjil. Rumah ini biasanya juga banyak dijumpai di Negeri Sembilan, Malaysia. Namun demikian tidak semua kawasan di Minangkabau (Darek) yang boleh didirikan rumah adat ini, hanya pada kawasan yang sudah memiliki status sebagai Nagari saja rumah gadang ini boleh didirikan. Begitu pula pada kawasan yang disebut dengan rantau. Rumah adat ini dahulunya juga tidak ada yang didirikan oleh para perantau Minangkabau. Fungsi dari rumah ini yaitu sebagai tempat tinggal bersama, sebagai lambang kehadiran suatu kaum, sebagai pusat kehidupan dan kerukunan, sebagai tempat merawat anggota keluarga yang sakit. Rumah ini memiliki ketentuan sendiri. Dalam rumah gadang, kamar yang ada di rumah tersebut memiliki bagian dan fungsi sendiri. Jumlah kamarnya bergantung pada jumlah perempuan yang tinggal di dalam. Setiap perempuan dalam kaum tersebut yang telah bersuami memperoleh sebuah kamar, sementara orang tua dan anak memperoleh tempat di kamar dekat dapur. Gadis remaja memperoleh kamar bersama di ujung. Bagian dalam rumah gadang merupakan ruangan lepas kecuali kamar tidur. Bagian dalam terbagi atas lanjar dan ruang yang ditandai oleh tiang. Tiang itu berbanjar dari muka ke belakang dan dari kiri ke kanan. Tiang yang berbanjar dari depan ke belakang menandai lanjar, sedangkan tiang dari kiri ke kanan menandai ruang. Jumlah lanjar bergantung pada besar rumah, bisa dua, tiga dan empat. Ruangnya terdiri dari jumlah yang ganjil antara 3 dan 11.
Rumah gadang biasanya di bangun di atas sebidang tanah milik keluarga induk dalam suku atau kaum tersebut secara turun temurun dan hanya dimiliki dan diwarisi dari dan kepada perempuan pada kaum tersebut. Di halaman depan rumah gadang biasanya selalu terdapat dua buah bangunan rangkiang, di gunakan untuk menyimpan padi. Rumah gadang pada sayap bangunan sebelah kanan dan kirinya terdapat ruang anjung. Sebagai tempat pengantin bersanding atau tempat penobatan kepala adat. Anjung pada kelarasan bodi chanlago tidak memakai tongkat penyangga di bawahnya. Sedangkan pada kelarasan kotopiliang memakai tongkat penyangga. Hal ini sesuai filosofi yang dianut kedua golongan yang berbeda. Salah satu golongan menganut prinsip pemerintahan hiranki, menggunakan anjung yang memakai tongkat penyangga. Pada golongan lainnya anjuang seolah olah mengapung di udara. Tidak jauh dari kompleks rumah gadang tersebut. Biasanya juga di bangun sebuah surau kaum yang berfungsi sebagai tempat ibadah, pendidikan dan juga sekaligus menjadi tempat tinggal lelaki dewasa kaum tersebut yang belum menikah.
Ciri – ciri bentuk dasar rumah gadang yang dasarnya berbentuk balok persegi empat yang mengembang ke atas. Garis melintangnya melengkung tajam dan di tandai dengan bagian tengah lebih rendah. Lengkung atap rumahnya sangat tajam seperti tanduk kerbau. Sedangkan lengkung badan dan rumah landai seperti badan kapal. Atap rumahnya terbuat dari ijuk. Bentuk atapnya yang melengkung dan runcing ke atas disebut gonjong. Ciri – ciri lain dari rumah gadang yaitu ukiran – ukiran pada dinding bagian luar dari rumah gadang. Pada bagian dinding rumah gadang dibuat dari bahan papan, sedangkan bagian belakang dari bahan bambu. Papan dinding dipasang vertical, sementara semua papan yang menjadi dinding dan menjadi bingkai diberi ukiran, sehingga seluruh dinding menjadi penuh ukiran. Penempatan motif ukiran tergantung pada susunan dan letak papan pada dinding rumah gadang. Pada dasarnya ukiran pada rumah gadang merupakan ragam hias pengisi bidang dalam bentuk garis melingkar atau persegi motif umumnya tumbuhan merambat, akar yang berdaun, berbunga, dan berbuah.

source:

Pakaian Adat Sumatera Barat

Inilah Pakaian Adat Dari Sumatera Barat (Pria dan Wanita)

Selain masakannya yang sangat familiar baik itu di kancah nasional, maupun mancanegara, Provinsi Sumatera Barat juga dikenal mempunyai kebudayaan yang sangat menarik. Kebudayaan yang sudah terpupuk subur sejak masa lampau tersebut hingga saat ini bahkan tetap terjaga dengan sangat baik. Masyarakat suku Minangkabau dari provinsi ini memang diketahui sangat kuat di dalam mempertahankan adat dan kebudayaanya. Salah satu adat dan kebudayaan tersebut misalnya dalam hal berpakaian. 
Pakaian adat Provinsi Sumatera Barat yang sangat dikenal di kancah nasional sebenarnya sebuah pakaian yang sangat sederhana sekali. Pakaian yang bernama "pakaian Bundo Kanduang atau Limapeh Rumah Nan Gadang" ini mempunyai keunikan terutama di bagian penutup kepala yang bentuknya menyerupai tanduk kerbau atau atap rumah gadang.

Bundo kanduang ini sendiri merupakan pakaian adat khas Minangkabau yang dipakai oleh para wanita yang sudah menikah. Sementara untuk para pria maupun untuk sepasang pengantin, dikenal juga beberapa jenis pakaian adat lainnya. Nah seperti apakah pakaian adat tersebut? Berikut ini penjelasannya.

1. Pakaian Bundo Kanduang atau Limpapeh Rumah Nan Gadang

Pakaian Bundo Kanduang atau Limpapeh Rumah Nan Gadang
Pakaian Bundo Kanduang atau Limpapeh Rumah Nan Gadang

Pakaian Limpapeh Rumah Nan Gadang atau yang sering disebut juga pakaian Bundo Kanduang merupakan lambang kebesaran bagi para wanita yang sudah menikah. Pakaian adat tersebut merupakan simbol dari pentingnya peran seorang ibu di dalam sebuah keluarga. 

Kata Limapeh dalam pakaian adat tersebut artinya adalah tiang tengah dari bangunan rumah adat Provinsi Sumatera Barat. Peran limapeh ini di dalam mengokoh tegakan bangunan merupakan analogi dari peran ibu di dalam sebuah keluarga. Jika limapeh ini rubuh, maka rumah atau suatu bangunan juga akan ikut rubuh, begitu pula jika seorang ibu atau wanita tidak pandai dalam mengatur rumah tangga, maka keluarganya juga tidak akan bertahan lama. 

Secara umum, pakaian adat Bundo Kanduang atau Limpapeh Rumah Nan Gadang ini mempunyai desain yang berbeda-beda dari setiap sub-suku. Namun, beberapa kelengkapan khusus yang pasti ada di dalam jenis-jenis pakaian adat tersebut adalah tingkuluak (tengkuluk), minsie, baju batabue,lambak atau sarung, salempang, galang (gelang), dukuah (kalung), dan beberapa aksesoris lainnya.

A. Tingkuluak (Tengkuluk)

Tingkuluak adalah sebuah penutup kepala yang bentuknya menyerupai kepala dari binatang kerbau atau atap rumah gadang, yaitu rumah tradisional Sumatera Barat. Penutup kepala yang terbuat dari kain selendang ini dipakai sehari-hari maupun ketika dalam upacara adat. 

B. Baju Batabue

Baju batabue atau baju bertabur merupakan baju kurung (naju) yang dihiasi dengan taburan pernak-pernik benang emas. Pernik-pernik sulaman benang emas tersebut melambangkan akan kekayaan alam daerah Provinsi Sumatera Barat yang sangat berlimpah. Corak dari sulaman ini pun sangat beragam. 

Baju batabue ada 4 varian warna, yakni warna merah, biru, hitam, dan lembayung. Pada bagian tepi lengan dan leher ada hiasan yang disebut dengan minsie. Minsie adalah sulaman yang menyimbolkan bahwa seorang wanita suku Minang harus taat kepada batas-batas hukum adat. 

C. Lambak

Lambak atau sarung adalah bawahan pelengkap pakaian adat Bundo Kanduang. Lambak ini ada yang berupa songket dan ada juga yang berikat. Sarung dikenakan menutupi bagian bawah tubuh wanita dengan cara diikatkan pada bagian pinggang. Belahannya dapat disusun di depan, samping, maupun belakang tergantung dari adat nagari atau sub-suku mana yang memakainya. 

D. Salempang

Salempang adalah selendang biasa yang umumnya terbuat dari kain songket. Salempang di letakan dibagian pundak wanita pemakainya. Salempang menyimbolkan bahwa seorang wanita harus mempunyai welas asih pada anak dan cucu, dan harus waspada akan segala kondisi. 

E. Perhiasan

Layaknya pakaian adat wanita dari daerah lain, pakaian adat Provinsi Sumatera Barat untuk wanita juga dilengkapi dengan berbagai macam aksesoris. Aksesoris tersebut biasanya adalah dukuah (kalung), galang (gelang), dan cincin. Dukuah terdapat beberapa motif, yakni kalung perada, daraham, kaban, cekik leher, manik pualam, dan dukuh panyiaram. Secara filosofis, dukuah ini melambangkan bahwa seorang wanita harus selalu mengerjakan segala sesuatunya di dalam azas lingkaran kebenaran. Sementara untuk motif galang diantaranya adalah galang bapahek, kunci maiek, galang ula, galang rago-rago, dan galang basa. Pemakaian gelang mempunyai filosofi bahwa seorang wanita mempunyai batasan-batasan tertentu di dalam melakukan aktivitasnya.

2. Baju Tradisional Pria Minangkabau

Baju Tradisional Pria Minangkabau
Baju Tradisional Pria Minangkabau

Pakaian adat Provinsi Sumatera Barat untuk para pria bernama "pakaian penghulu". Sesuai dengan namanya, pakaian adat ini hanya dipakai oleh tetua adat atau orang tertentu, dimana dalam cara pemakaiannya juga di atur dengan sedemikian rupa oleh hukum adat. Pakaian ini terdiri dari beberapa kelengkapan yang diantaranya adalah Deta, baju hitam, sarawa, cawek, sandang, sesamping, keris, dan tungkek. 

A. Deta

Deta atau destar merupakan sebuah penutup kepala yang terbuat dari kain hitam yang biasanya dililitkan dengan sedemikian rupa sehingga mempunyai banyak kerutan. Kerutan pada deta ini melambangkan bahwa sebagai seorang tetua, ketika akan memutuskan sesuatu maka hendaknya terlebih dahulu mengerutkan dahinya untuk mempertimbangkan segala baik dan buruk di setiap keputusannya tersebut. Adapun berdasarkan pemakainya, deta ini sendiri dibedakan menjadi deta raja yang dipakai oleh para raja, deta saluak batimbo yang dipakai penghulu, deta gadang, deta ameh, dan deta cilieng manurun. 

B. Baju

Baju penghulu biasanya berwarna hitam. Baju tersebut dibuat dari kain beludru. Warna hitam pada baju ini melambangkan tentang arti kepemimpinan. Segala puji dan juga rasa haru bisa diredam seperti halnya warna hitam yang tidak akan berubah meskipun warna lain menodainya. 

C. Sarawa

Sarawa adalah celana penghulu yang juga memiliki warna hitam. Celana tersebut mempunyai ukuran yang besar di bagian betis dan paha. Ukuran tersebut melambangkan bahwa sebagai seorang pemimpin adat haruslah berjiwa besar di dalam melaksanakan tugas dan juga mengambil keputusan. 

D. Sasampiang

Sasampiang adalah selendang merah yang berhiaskan benang makau warna warni dan dipakaikan di bahu pemakainya. Warna merah selendang melambangkan sebuah keberanian, sementara hiasan benang makau sendiri melambangkan ilmu dan kearifan. 

E. Cawek

Cawek (ikat pinggang) berbahan kain sutra dan dipakai untuk menguatkan ikan celana sarawa yang longgar. Kain sutra pada cawek atau ikat pinggang ini melambangkan bahwa seorang penghulu haruslah cakap dan lembut di dalam memimpin serta sanggup mengikat jalinan persaudaraan diantara masyarakat yang dipimpinnya. 

F. Sandang

Sandang merupakan kain merah yang diikatkan dibagian pinggang sebagai pelengkap pakaian adat Provinsi Sumatera Barat. Kain merah tersebut berbentuk segi empat dan melambangkan bahwa seorang penghulu haruslah tunduk pada hukum adat. 

G. Keris dan Tongkat

Keris diselipkan dibagian pinggang, sementara tungkek atau tongkat dipakai untuk petunjuk jalan. Kedua kelengkapan tersebut merupakan simbol bahwa kepemimpinan merupakan amanah dan juga tanggung jawab besar.

3. Pakaian Adat Pengantin Sumatera Barat

Pakaian Adat Pengantin Sumatera Barat
Pakaian Adat Pengantin Sumatera Barat

Selain kedua pakaian adat tersebut, ada juga jenis pakaian adat Provinsi Sumatera Barat lainnya yang umumnya dikenakan oleh para pengantin di dalam upacara pernikahan. Pakaian pengantin ini umumnya berwarna merah dengan tutup kepala dan hiasannya yang lebih banyak. Sampai saat ini, pakaian tersebut masih selalu dipakai tapi tentunya dengan sedikit tambahan modernisasi dengan desainnya yang lebih unik.

source: