Tampilkan postingan dengan label Sumatera Utara. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sumatera Utara. Tampilkan semua postingan

Selasa, 13 Maret 2018

Rumah Adat Sumatera Utara


8+ Rumah Adat Sumatera Utara Beserta Penjelasan dan Gambar

Provinsi ini beribukota di kota Medan, yang kebanyakan dihuni oleh suku batak, yaitu suku asli sekaligus suku mayoritas disana. Batak sendiri merupakan salah satu suku di Indonesia, dengan jumlah penduduk yang besar setelah suku Jawa.
Batak juga dikelompokkan menjadi beberapa sub suku lagi. Yaitu Batak Toba, Koro, Simalungun, Angkola, Pakpak, dan Mandailing. Masing-masing sub suku tersebut memiliki adat budaya yang berbeda-beda. Perbedaan ini bisa terlihat dari desain rumah adatnya.
Rumah adat di Sumatera Utara yang secara resmi di akui oleh Nasional adalah rumah adat bolon. Tapi, sebenarnya orang batak ini masih mempunyai banyak arsitektuk rumah. Nah, untuk lebih jelasnya mengenai rumah adat Sumatera Utara, mari simak baik-baik ulasan di bawah ini.

rumah adat sumatera utara
Rumah adat bolon ini biasanya disebut Rumah Balai Batak Toba, dan telah diakui oleh Nasional sebagai perwakilan rumah adat Sumatera Utara. Rumah adat ini berbentuk persegi panjang, serta termasuk kategori rumah panggung. Dan hampir keseluruhannya bangunannya terbuat dari bahan alam.
Rumah panggung ini umumnya dihuni oleh 4-6 keluarga yang hidup bersama-sama. Kalau didaerah lain, rumah panggung sengaja dibuat untuk menghindari serangan binatang buas. Namun, rumah panggung adat bolon di buat agar memiliki kolong rumah. Kolong rumah tersebut digunakan sebagai kandang hewan pemeliharaan masyrakat batak, seperti babi, ayam, dan kambing.

Fungsi Rumah Bolon

Pada zaman dahalu, rumah balon ini merupakan rumahnya bagi 13 raja batak. Namun, seiring dengan perkembangan zaman, rumah adat ini kemudian dipakai oleh masyrakat umum suku batak. Untuk membantu kalangsungan hidup masyrakat suku batak, maka rumah adat ini dibagi menjadi beberapa ruangan. Dan tentunya berdasarkan fungsinya, yaitu :
  1. Ruangan Jabu Bong, ruangan ini khusus bagi kepala keluarga. Yang lokasinya berada di bagian belakang di sudut sebelah kanan.
  2. Ruangan Jabu Soding, ruangan ini khusus bagi anak perempuan. Yang lokasinya berada di bagian belakang sebelah kiri dan berhadapan dengan ruangan jabu bong.
  3. Ruanagan Jabu Suhat, ruangan ini khusus bagia anak lelaki tertua yang sudah menikah. Dan letaknya berada dibagian sudut kiri depan.
  4. Ruangan Tempar Piring, ruangan ini untuk menyambut tamu. Yang letaknya berada dibagian ruangan jabu suhat.
  5. Ruangan Jabu Tonga Rona ni Jabu Rona, ruangan ini khusus untuk keluarga. Dan ukurannya paling besar dibandingkan dengan ruangan yang lainnya. Letaknya berada di bagian tengah rumah.
  6. Kolong Rumah, ruangan ini digunakan sebagai tempat menyimpan bahan pangan dan juga untuk kandang ternak. Seperti apa yang sudah saya jelaskan diatas.
Pembagian ruangan seperti di atas tentunya tidak semua ruangan harus dipisahkan oleh dinding pemisah. Secara umum, bagian dalam rumah adalah ruang yang luas tanpa disekat. Tetapi ruangan-ruangan tersebut tentunya dipisahkan oleh aturan adat yang membatasi. Dan juga mengikat disetiap anggota keluarga maupun para tamu yang datang.

Ciri Khas dan Nilai Filosofi Rumah Balon

Rumah Bolon ini dijadikan sebagai identitas rumah adat dari Provinsi Sumatera Utara. karena dianggap mempunyai beberapa keunikan tersendiri di dalam segi desain arsitekturnya. Keunikan tersebutlah yang kemudian menjadi ciri khas dan sekaligus pembeda diantara rumah adat Provinsi lainnya di Indonesia. Ciri khas pada rumah bolon ini diantaranya adalah sebagai berikut :
  1. Memiliki atap yang bentuknya hampir sama dengan pelana kuda. Dengan sudut yang sangat sempit, sehingga terlihat cukup tinggi.
  2. Dindingnya pendek Tapi, cukup untuk dibuat berdiri, karena rumah adat ini tidak dilengkapi oleh plafon.
  3. Dinding dibagian atas dilengkapi berbagai anyaman yang menghiasi penampilan rumah.
  4. Dibagian atas pintu depan ada sebuah groga atau lukisan hewan. Seperti lukisan cicik dan kerbau, yang lebih dominan dengan warna merah, hitam dan putih. Gambar hewan cicak pada motif tersebut merupakan simbol dari masyrakat batak yang mempunyai rasa persaudaraan kuat antar sesamanya. Sedangkan gambar hewan kerbau merupakan simbol ucapan terima kasih.

Rumah Adat Karo

rumah adat sumatera utara
Rumah adat karo Sumatera Utara ini biasanya disebut juga sebagai rumah adat Siwaluh Jabu. Siwaluh Jabu sendiri memiliki pengertian atau makna sebuah rumah yang dihuni oleh delapan keluarga. Masing-masing keluarga mempunyai peran tersendiri didalam rumah tersebut.
Penempatan keluarga-keluarga dalam rumah karo ditentukan oleh adat karo. Secara umum, rumah adat ini terdiri atas Jabu Jahe (hilir) dan Jabu Julu (hulu). Jabu Jahe juga dibagi menjadi dua bagian, yakni jabu ujung kayu dan jabu rumah sendipar ujung kayu.
Namun, biasanya rumah adat ini terdiri dari delapan ruangan dan dihuni delapan keluarga. Sementara dalam rumah adat karo hanya terdapat empat dapur. Masing-masing jabu dibagi menjadi dua, sehingga terbentuk beberapa jabu-jabu. Anatara lain, sedapuren bena kayu, sedapuren ujung kayu, sedapuren lepar bena kayu, dan jabu sadapuren lepar ujung kayu.

Struktur Rumah Adat Karo

Rumah adat ini bertiang tinggi dan satu rumah biasanya dihuni oleh satu keluarga besar. Yang terdiri dari empat sampai delapan kerluarga batak. Didalam rumah tidak ada sekatan atau pemisah, jadi satu ruangan lepas.
Tetapi, pembagian ruangan tetap ada, yaitu debatasi dengan garis-garis adat istiadat yang kuat, meski pun garisnya tidak terlihat. Masing-masing ruangan mempunyai nama dan siapa saja yang harus mendiami ruangan tersebut, serta sudah ditentukan pula oleh adat.
Pembagian ruangan dalam rumah adat karo adalah sebagi berikut :
  • Jabu Bena Kayu, ruangan ini khusus didiami oleh pihak marga tanah dan pendiri kampung. Beliau merupakan penghulu atau pemimpin rumah tersebut.
  • Jabu Sedapur Bena Kayu, ruangan ini masih bersatu dengan jabu bena kayu, dan biasanya disebut juga sinenggel-ninggel. Ruang ini didiami oleh pihak Senina yakni saudara-saudaranya yang bertindak sebagai wakil pemimpin rumah tersebut.
  • Jabu Ujung Kayu, didiami oleh anak beru toa, bertugas sebagai pemecah setiap masalah yang timbul. Ruangan ini juga biasanya disebut Jabu Sungkun Berita.
  • Jabu Sedapur Ujung Kayu, ruangan sedapur dengan jabu ujung kayu, disebut juga jabu silengguri. Jabu ini dihuni oleh anak beru dari jabu sungkun berita.
  • Jabu Lepan Bena Kayu, ruangan yang berseberangan dengan jabu bena kayu. Disebut juga jabu simengaloken dan dihuni oleh biak senina.
  • Jabu Sedapur Lepan Bena Kayu, ruangan yang sedapur dengan jabu lepan bena kayu. Dihuni oleh senina sepemeren atau separiban.
  • Jabu Lepan Ujung Kayu, dihuni oleh kalimbuh yaitu pihak pemberi gadis, dan biasanya disebut Jabu Silayari.
  • Jabu Sedapur Lepan Ujung Kayu, ruangan yang sedapur dengan jabu lepan ujung kayu. Ruangan ini dihuni oleh Jabu Simalungun Minum, dan Puang Kalimbuh yaitu Kalimbuh dari jabu silayari. Kedudukan Kalimbuh ini cukup dihormati didalam adat.

Rumah Adat Pakpak

rumah adat sumatera utara
Rumah adat pakpak mempunyai bentuk yang khas dan dibuat dari bahan kayu serta atapnya dari bahan ijuk. Bentuk desain rumah adat ini selain sebagai wujud seni budaya pakpak, juga bagian-bagian rumah adat pakpak mempunyai arti sendiri. Rumah adat pakpak disebut Jerro.
Rumah adat ini sama halnya dengan rumah adat lainnya di Sumatera Utara. Yang pada umumnya menggunakan tangga dan tiang penyangga.

Rumah Adat Mandailing

rumah adat sumatera utara
Suku Mandailing berada di wilayah Provinsi Sumatera Utara, yang berbatasan dengan Provinsi Riau. Daerah Mandailing terkenal sebagai destinasi wisata alam yang memukau. Serta budaya kearifan lokal yang begitu erat dipegang oleh penduduk setempat.
Rumah Adat Mandailing dapat anda temui di kabupaten Mandailing Natal. Kabupaten ini bagian dari wilayah Kabupaten Padang Lawas dan Kabupaten Tapanuli Selatan. Rumah adat ini biasanya disebut juga Bagas Godang. Yang mempunyai makna Bagas dalam bahasa mandailing berarti rumah sedangkan godang berarti banyak.

Rumah Adat Melayu

rumah adat sumatera utara
Adat melayu bisa anda temui di Kota Medan, Kabupaten Deli Serdang, Kabupaten Langkat, Kabupaten Batu Bara, Kabupaten Labuhan dan Kabupaten Serdang Begadai. Suku melayu ini mempunyai peran yang sangat penting dalam Medan sebagai Kota terbesar ketiga di Indonesia.
Rumah Adat Melayu Deli identik dengan warna kuning dan hijau, serta dinding dan lantainya terbuat dari papan. Sedangkan atapnya menggunakan ijuk.

Rumah Adat Nias

rumah adat sumatera utara
Rrumah adat Nias dinamai Omo Hada, bentuk rumah adat ini adalah panggung tradisional orang Nias. Selain itu, juga terdapat rumah adat nias dengan desain yang berbeda, yaitu Omo Sebua. Omo Sebua ini merupakan rumah tempat kediaman para kepala negeri (Tuhenori), kepala desa (Salawa), atau kaum bangsawan.
Rumah adat ini dibangun diatas tiang-tiang kayu nibung yang tinggi dan besar, serta beralaskan Rumbia. Bentuk denahnya ada yang bulat telu, ini di daerah Nias Utara, Timur, dan Barat. Sedangkan ada pula yang persegi panjang yaitu didaerah Nias Tengah dan Selatan.
Bangunan rumah adat ini tidak berpondasi yang tertanam ke dalam tanah. Dan sambungan antara kerangkanya tidak memakai paku, sehingga tahan goyangan gempa.

Rumah Adat Angkola

Angkola merupakan etnis yang berdiri sendiri, meskipun banyak orang yang menyamakan dengan mandailing. Rumah adat ini juga dinamai bagas godang seperti rumah adat mandailing. Tetapi, terdapat beberapa perbedaan diantara keduanya.
Rumah adat angkola atapnya menggunkan ijuk dan dinding serta lantainya dari papan. Keistimewaan rumah adat ini terletak pada warna dominan yaitu, hitam.

Rumah Adat Simalungun

rumah adat sumatera utara
Simalungan adalah etnis yang berada di Kabupaten Simalungun dan Kota Pematang Siantar, rumah adat ini dinamai Rumah Bolon. Rumah adat ini mempunyai perbedaan dengan lainnya, bentuk atapnya yang unik didesign berbentuk limas.
source:

Kesenian Daerah Sumatera Utara

5 RAGAM SENI DALAM BUDAYA BATAK TOBA


Etnik Batak Toba merupakan salah satu dari banyak etnik yang bermukim di Provinsi Sumatera Utara. Etnik yang mendiami wilayah yang relatif luas, mulai dari daerah di sekitar tepian Danau Toba dan Pulau Samosir, hingga ke dataran tinggi Silindung dan Pahae ini, memiliki budaya yang unik dengan ragam kesenian yang menarik. Sehingga, budaya Batak Toba cukup banyak mendapatkan perhatian, baik oleh para akademisi maupun wisatawan.
Beragam kesenian tersebut, mulai dari seni tari, seni musik, seni kerajinan, seni sastra, hingga seni rupa, hidup menyatu dalam adat istiadat dan sisi religi masyarakat Batak Toba. Semua kesenian tradisional tersebut menjadi bagian kehidupan mereka, bahkan hingga saat ini. Meskipun dunia sudah berkembang semakin modern, ragam kesenian tradisional itu tetap bisa bertahan, bahkan malah menjadi bagian penting dalam dunia pariwisata.
Para turis yang berlibur ke Danau Toba dan daerah-daerah sekitarnya, memang tidak hanya untuk menyaksikan keindahan alam yang dimiliki wilayah tersebut. Tetapi, mereka juga tertarik untuk menikmati kebudayaan dan kesenian tradisional dalam masyarakat Batak Toba. Untuk mengetahuinya lebih lanjut, berikut ini pembahasan mengenai lima ragam seni yang hidup dan terus bertahan dalam tatanan budaya Batak Toba tersebut.
  1. Seni Tari
    Tari Tortor menjadi salah satu kesenian yang paling menonjol dalam kebudayaan masyarakat Batak Toba. Manortor (menari, bahasa Batak Toba) merupakan lambang bentuk syukur kepada Mulajadi Nabolon, dewa pencipta alam semesta, dan rasa hormat kepada hula-hula dalam konsep kekeluargaan mereka. Oleh karena itu, tari ini biasanya dilakukan dalam upacara ritual, ataupun dalam upacara adat, seperti acara pernikahan.
  2. Seni Musik
    Sejumlah alat musik juga menjadi bagian dalam pelaksanaan upacara ritual dan upacara adat dalam kebudayaan orang-orang Batak Toba. Dua jenis ansambel musik, gondang sabangunan dan gondang hasapi merupakan alat musik tradisional yang paling sering dimainkan. Menurut mitologi etnik Batak Toba, kedua alat musik tersebut merupakan milik Mulajadi Nabolon, sehingga harus dimainkan untuk menyampaikan permohonan kepada sang dewa.
  3. Seni Kerajinan
    Martonun, atau keterampilan dalam membuat kais ulos dengan alat tenun tradisional, merupakan salah satu seni kerajinan dalam tradisi adat Batak Toba, yang hingga saat ini masih bisa dijumpai di pedalaman Pulau Samosir dan daerah-daerah lainnya di sekitar Danau Toba. Masyarakat Batak Toba melakukan berbagai seni kerajinan sesuai dengan peran dan fungsinya dalam struktur adat dan religi yang mereka percaya.
  4. Seni Sastra
    Ada banyak seni sastra yang berkembang dalam kehidupan masyarakat Batak Toba, meliputi sastra lisan dan sastra tulisan. Beragam cerita rakyat, seperti terjadinya Danau Toba dan Batu Gantung, menjadi legenda yang sampai saat ini masih bisa kita dengar. Pantun-pantun yang disebut umpasa juga ada dalam kebudayaan Batak Toba, yang menjadi kearifan lokal etnik tersebut. Semua seni sastra itu memiliki makna filosofis dalam kehidupan mereka.
  5. Seni Rupa
    Seni pahat dan seni patung menjadi keterampilan utama dalam seni rupa tradisional yang hidup di Batak Toba. Ukiran-ukiran yang terdapat gorga atau ornamen rumah adat mereka, menjadi bukti keindahan dari seni pahat masyarakat Batak Toba. Sedangkan, seni patung bisa dilihat dari banyak peralatan tradisional, seperti sior dan hujur (panah), losung gaja (lesung besar), serta parpagaran dan sigale-gale (alat untuk memanggil kekuatan gaib).
Semua jenis kesenian tradisional dalam budaya Batak Toba itulah yang hingga sekarang menjadi bagian yang tidak terpisahkan dalam kehidupan mereka. Mereka terus menjaganya agar tetap hidup dalam tatanan adat istiadat dan kehidupan religi masyarakat tersebut. Itu pula yang kemudian menjadi daya tarik dalam dunia pariwisata, yakni sebagai hiburan bagi para turis asing, yang selama ini mungkin belum pernah melihatnya.
source:

Pakaian Adat Sumatera Utara

Pakaian Adat Sumatera Utara dan Penjelasannya Lengkap Gambar

Pakaian Adat Sumatera Utara dan penjelasannya - Terdapat beberapa suku bangsa di Provinsi Sumatera Utara, antara lain suku Nias, suku Melayu, dan suku Batak. Namun meskipun dilatarbelakangi oleh nama suku yang berbeda, mereka selalu hidup rukun berdampingan. Diantara beberapa suku bangsa yang ada di Sumut, suku Batak merupakan suku terbesar dengan pakaian adatnya yang terkenal dengan kain ulos.

Admin yakin tentunya anda sering mendengar nama kain ini meskipun mungkin belum pernah melihatnya secara langsung. Kain ulos merupakan ciri khas utama pakaian adat dari Provinsi Sumatera Utara.

Sumatera Utara memiliki beragam pakaian adat, hal ini dikarenakan setiap suku atau daerah memiliki pakaian adat masing-masing. Inilah kekayaan budaya Indonesia yang sulit tertandingi di dunia internasional.

7 Pakaian Adat Sumatera Utara
Terdapat 7 pakaian adat di Provinsi Sumatera Utara, yaitu:
  1. Pakaian Adat Suku Batak Simalungun
  2. Pakaian Adat Suku Batak Toba
  3. Pakaian Adat Suku Batak Karo
  4. Pakaian Adat Suku Batak Mandaling
  5. Pakaian Adat Suku Melayu
  6. Pakaian Adat Suku Nias
  7. Pakaian Adat Suku Pakpak

Mari kita ulas satu persatu dari pakaian adat Sumatera Utara:
1. Pakaian Adat Suku Batak Simalungun
Pakaian adat Suku Batak Simalungun berbahan kain ulos, tetapi masyarakat setempat acap kali menyebutnya kain Hiou. Suku ini berada di wilayah Simalungun, maka tak heran jika disebut Batak Simalungun.

Seperti halnya pakaian adat Aceh, Pakaian adat Suku Batak Simalungun juga dihiasi dengan aksesoris yang menambah uniknya pakaian tersebut, seperti penutup kepala dan juga kain samping. Meskipun hanya penutup kepala, namun namanya pun berbeda baik yang dikenakan pria maupun wanita. Untuk pria namanya Gotong, dan untuk wanita namanya Bulang. Sedangkan kain namanya Suri-suri.

Gambar Pakaian Adat Suku Batak Simalungun


2. Pakaian Adat Suku Batak Toba
Suku Batak Toba tinggal di daerah sekitar danau Toba. Pakaian adat Suku Batak Toba juga terbuat dari kain ulos yang merupakan kain tenun khas Batak. Memang secara umum, kain ulos merupakan ciri khas sekaligus Sumatera Utara. Kain ulos ditenun secara manual, disematkan motif menarik berupa benang emas atau perak, sehingga kilauan kain ini akan menambah menarik bagi yang mengenakannya.
Kain ulos memiliki bermacam corak dimana masing-masing memiliki motif yang khas dan menarik, antara lain:

  • Kain Ulos Antakantak
  • Kain Ulos Bintang Maratur
  • Kain Ulos Bolean
  • Kain Ulos Mangiring
  • Kain Ulos Padang Ursa
  • Kain Ulos Pinan Lobu-lobu
  • Kain Ulos Pinuncaan

Gambar Pakaian adat Suku Batak Toba
3. Pakaian Adat Suku Batak Karo
Pakaian adat Suku Batak Karo tidak jauh berbeda dengan pakaian adat Batak pada umumnya. Kainnya terbuat dari pintalan kapas yang disebut Uis Gara, dikenakan sebagai penutup tubuh untuk aktivitas sehari-hari.
Kain Uis Gara artinya kain merah, yang terbuat dari tenunan benang merah yang dipadukan dengan benang warna hitam atau biasa juga putih dengan sematan motif benang emas atau perak.

Gambar Pakaian adat Suku Batak Karo

4. Pakaian adat Suku Batak Mandaling
Suku Batak Mandailing merupakan sub suku batak yang tinggal di sekitar Kab. Tapanuli Selatan, Kab. Mandailing Natal, dan Kabupaten Padang Lawas.Pakaian adat Suku Batak Mandailing juga tidak berbeda jauh dengan suku Batak Toba. Pakaian adat mereka juga kain ulos yang dilengkapi dengan berbagai macam aksesoris menarik.

Gambar Pakaian adat Suku Batak Mandaling

5. Pakaian adat Suku Melayu
Suku Melayu tinggal di wilayah Kota Tebing Tinggi, Binjai, Medan, Kab. Langkat, Deli Serdang, Serdang Bedagai, sampai Kab. Batu Bara Provinsi Sumatera Utara. Pakaian adat Melayu di Sumut memiliki ciri khas yang tidak jauh berbeda dengan pakaian adat Melayu Riau, yaitu baju kurung serta sarung songket yang dililitkan di pinggang.

Gambar Pakaian adat Suku Melayu

6. Pakaian Adat Suku Nias

Sering mendengar bukan dengan Suku Nias? Pulau Nias terletak di sebelah barat pulau Sumatera, khususnya Sumatera Utara. Meskipun suku ini termasuk ke dalam wilayah Sumatera Utara, namun pakaian adat Suku Nias memiliki perbedaan dengan suku-suku lain yang ada di provinsi ini.
Pakaian adat pria suku Nias dinamakan Baru Oholu, sedangkan untuk pakaian adat wanitanya disebut Oroba Si Oli. Namun keduanya sama-sama menggunakan warna emas atau kuning sebagai warna yang mendominasi.

Gambar Pakaian Adat Suku Nias

7. Pakaian adat suku Pakpak
Suku Pakpak tinggal di wilayah Kabupaten Pakpak Barat dan Kabupaten Dairi, Sumatera Utara. Pakaian adat suku Pakpak menggunakan kain oles, yang merupakan kain tenun khas suku ini, dengan perlengkapan aksesoris mahal berupa kalung emas bertahtakan permata. Pakaian pria suku pakpak disebut borgot, sedangkan untuk wanita disebut cimata.

Gambar Pakaian adat suku Pakpak

source: